TEKSTURISASI
MAKANAN
Alat pengekstrusi adalah reactor dengan
aliran terputus (continue) serta mempunyai kelembaban yang rendah. Molekul –
molekul makanan yang besar seperti karbohidrat dan protein mengalami denaturasi
dan menyusun diri sepanjang aliran laminar yang terjadi didalam ulir
pengekstrusi dan cetakan. Pada suhu yang makin tinggi, molekul- molekul ini
membentuk ikatan silang \menjadi struktur yang telah berubah yang dapat
mengembang bila dikeluarkan dari cetakan. Suatu sifat molekul terdenaturasi
yang linear akan menambah kemampuannya untuk disusun dan dibentuk menjadi
struktur yang berlapis- lapis.
·
PROSES
TEKSTURISASI PADA INDUSTRI MAKANAN
1.
Penyerpihan
( flaking)
Flaking dapat diartikan sebagai
pemipihan atau pelempengan. Flaking
dapat dilakukan pada biji-bijian utuh ataupun partikel-partikel besar atau
tepung. Untuk biji-bijian seperti biji gandum, bahan akan dialirkan diantara
celah gilingan yang sempit maka terbentuk partikel-partikel dengan ukuran
relative kecil akibat dari pecahan yang rapuh. Apabila biji tersebut
diplastinisasi dengan pemberian uap, maka akan dapat berubah lagi menjadi
lempengan tipis atau flake.
Flake pada umumnya diperoleh dengan
kadar air yang rendah sehingga bahan menjadi lentur serta mudah untuk dicetak.
Oleh karena itu sebagian besar flake
biasanya dikeringkan atau dipanggang untuk mengurangi kadar airnya dan
kadang-kadang untuk menghasilkan sedikit efek melembung (puffing)
Untuk hasil akhir dari produk melalui
proses flaking ini merupakan produk yang memiliki kadar air rendah, getas dan
serat renyah, jadi untuk perubahan tekstur selama proses flaking ini adalah
perubahan tekstur keras dari bahan menjadi getas dan berserat serta renyah.
2.
Pemanggangan
(Toasting)
a. Prinsip
pemanggangan
·
Panas diberikan pada produk dari dinding
oven melalui radiasi
·
Konveksi panas
juga terjadi menuju produk dari udara panas dalam oven
·
Dalam produk terjadi konduksi panas
Pemanggangan
merupakan proses utama dalam membentuk karakteristik produk yang diinginkan
seperti struktur, tekstur, flavor, dan warna. Produk hasil pemanggangan seperti
roti, cake, biskuit, crackers, dan cookies mempunyai perbedaan karakteristik
yang diinginkan.
b. Pengaturan
suhu
Suhu pemanggangan yang terlalu tinggi
menyebabkan crust terbentuk secara cepat menyebabkan
ukuran produk lebih kecil warna crust menjadi lebih gelap sedangkan bagian
tengah menjadi tidak terpanggang sempurna. Jika suhu pemanggangan terlalu
rendah, waku pemanggangan lebih lama untuk mendapatkan warna yang diinginkan. Pemanggangan
yang lama mengakibatkan crust yang terbentuk lebih tebal.
c.
Pembakaran
(Baking)
Pembakaran ( baking) digunakan untuk membuat
produk-produk bakery seperti roti,kue kering, kue dan makanan renyah lainnya.
Setiap produk mempunyai tekstur yang khas, kendati berasal dari bahan baku yang
sama yaitu tepung terigu ait serta bahan pemgembang. Untuk produk roti dan kue yang merupakan produk lembab serta
mempunyai tekstur yang lunak. Tekstur ini akan dapat berubah apabila bahan
kehilangan kelembabannya sehingga apabila dilakukan pembakaran yang berlebihan
maka akan berakibat terhadap tekstur roti, yaitu roti akan menjadi keras.
Sementara dengan biscuit dan kue kering yang pada
umumnya memiliki kandungan air yang rendah, bahan ini akan tidak akan menjadi keras
apabila dilakukan pembakaran yang berlebihan (suhu tinggi) namun akan menjadi
lebih renyah.
Jadi untuk pembakaran (baking) pada produk bakery
akan mempengaruhi tektur bahan bisa menjadi lunak dan renyah namun dipengaruhi oleh kandungan
air pada bahan tersebut.
d.
Penggorengan (frying)
Penggorengan merupakan suatu proses pemanasan bahan pangan menggunakan
medium minyak goreng yang bertujuan untuk melakukan pemanasan bahan pangan,
pemasakan dan pengeringan pada bahan yang digoreng.
Pemanasan yang terjadi selama proses penggoraengan akan memberi efek
deksrtrusi panas yang dapat membunuh mikroba dan menginaktivasi enzim dimana
keduanya berperan dalam kerusakan bahan pangan. Selain itu penggorengan juga
akan menurunkan aktivitas air yang digunakan untuk pertumbuhan mikroba,
sehingga bahan pangan menjadi lebih awet.
Selama proses penggorengan akan terjadi pemasakan yang
akan meningkatkan mutu makanan (eating quality) karena adanya konversi zat gizi
ke dalam bentuk yang lebih sederhana sehingga dapat dicerna oleh organ
pencernaan manusia. Dari segi organoleptik (aroma, rasa dan tekstur), produk
pangan yang telah digoreng cenderung lebih disukai.
Dibandingkan cara pengolahan yang lain, penggorengan
biasanya bersifat cepat karena perubahan pada bahan pangan memerlukan waktu
yang lebih singkat pada suhu tinggi. Sifat produk hasil penggorengan juga khas.
Timbul flavor khas gorengan yang tidak ditemui pada cara ppengolahan bahan
pangan yang lain.
Selama proses penggorengan, air akan keluar melalui
rongga-rongga bahan yang lebih besar terlebih dahulu. Ruang-ruang yang
ditinggalkan ini nantinya akan dimasuki oleh lapisan minyak goreng. Ketebalan
lapisan minyak goreng ini akan mengontrol laju pindah panas dan pindah massa
bahan, yang ditentukan dari kekentalan dan kecepatan pengadukan minyak yang
akan mendorong keluarnya air dari bahan. Dengan masuknya minyak yang panas akan
menyebabkan terbentuknya crust (kerak) yaitu permukaan bahan pangan yang kering
atau keras.Lama waktu penggorengan bahan pangan dipengaruhi oleh jenis bahan,
suhu minyak, metode penggorengan (deep fat frying atau shallow frying),
ketebalan bahan dan tingkat perubahan sesuai mutu yang diinginkan.
Bahan pangan basah biasanya digoreng sampai bagian
pusat bahan matang agar mikroba patogen didalamnya dapat dimusnahkan. Suhu
penggorengan menjadi pertimbangan ekonomis dan kualitas produk yang dihasilkan.
Pada suhu tinggi, waktu penggorengan lebih singkat dan laju produksi meningkat.
Naumn suhu tinggi juga memepercepat kerusakan minyak dengan adanya pembentukan
asam lemak bebas sehingga akan mengakibatkan perubahan kekentalan, flavor dan
warna minyak. Berkaitan dengan mutu produk yang diinginkan suhu penggorengan
dapat ditentukan tinggi atau rendahnya. Suhu yang tinggi akan membentuk crust
pada permukaan bahan dengan cepat sehingga menghambat laju perpindahan air
keluar dari bahan. Jika menginginkan produk yang mengandung kerak yang kering
dan bagian dalam yang basah dilakukan dengan suhu penggorengan tinggi.
Sementara jika menginginkan produk dengan tekstur kering seluruhnya seperti
keripik digunakan suhu rendah.
e.
Pengembangan
(puffing)
Puffing adalah proses untuk membentuk
uap panas dalam biji atau pele melalui pemanasan partikel air yang terkandung
untuk memperoleh pengembangan volume yang cukup besar pada bahan yang telah
diplastisisasi tersebut. contohnya gelembung yang terbentuk pada bahan gandum
atau beras, pop corn dan beberapa sereal dengan nama dagang tertentu. Pada
mulanya proses ini dilakukan dengan system terputus atau batch dalam bejana yang
dipanaskan dengan pembakar gas dari luar dan ditutup dengan penutup yang dapat
dibuka cepat.
Pada saat tekanan bejana mencapai titik
yang diatur sebelumnya, tutup dibuka dan isinya dikeluarkan. Sebagaimana
lazimnya system terputus, proses ini bersifat transien, dan sulit untuk
memproduksi kembali dari satu batch ke batch lainya. Hal ini menyebabkan
dikembangkannya suatu proses dengan system yang tak terputus (continue).
Hal hal penting pada proses puffing yang
continue terdiri dari : umpan bahan padat yang berkesinambungan dari tekanan
atmosfir ke tekanan yang dinaikan, pengaturan lama bahan pada tekanan yang
ditinggikan, pengaturan tekanan yang juga berhubungan dengan suhu), dan
pengeluaran padatan dari bejana bertekanan tinggi dan bejana yang bertekanan rendah.
f.
Pelapisan
(coating)
Penambahan bahan pelapis
merupakan proses yang sifatnya tambahan. Proses pelapisan gula dilakukan dengan
menyemprotkan sirup gula kental dan panas ke permukaan sereal didalam sebuah
drum berputar yang menghasilkan lapisan kristal gula pada saat mengering. Lapisan gula bisa menghambat
penyerapan air selama penyimpanan. Selain itu, lapisan gula juga menjadi
lapisan pemisah antara sereal dengan susu sehingga akan mempertahankan
kerenyahan lebih lama ketika produk dicampur dengan susu. Pelapisan dengan
larutan dekstrin atau maltodekstrin dapat mempertahankan kerenyahan lebih lama
tanpa penambahan pemanis (Burrington, 2001).
Jika sereal akan
ditambahkan dengan perisa, pengawet (antioksidan) atau diforti-fikasi dengan vitamin dan mineral, maka komponen-komponen ini dapat
disemprotkan di permukaan produk setelah berakhirnya proses yang menggunakan
suhu tinggi. Penambahan komponen-komponen ini pada awal proses akan
menyebabkan rusaknya sebagian komponen selama proses pemanasan.
g.
Pengisian (filling)
Co-ekstruded snacks merupakan
istilah untuk hasil ekstrusi yang memiliki bagian terisikan. Dengan kata lain,
produk ekstrusi ini memiliki isi tertentu, biasanya berupa pasta, untuk
menambah cita rasa dari produk. Proses pengisian ini tidak dilakukan secara
terpisah, tetapi bersamaan ketika ekstrudat keluar dari cetakan (die)
(Huber dalam Anonim, 2002).
h.
Ekstrusi
Ekstrusi adalah suatu
proses yang mengkombinasikan beberapa proses meliputi pencampuran, pemasakan,
pengadonan, penghancuran, pencetakan, dan pembentukan. Saat ini fungsi
pengolahan dengan ekstrusi juga mencangkup separasi, pendinginan dan pemanasan,
penghilangan senyawa volatile dan penurunan kadar air, pembentukan citarasa dan
bau, enkapsulasi, serta sterilisasi. Pada proses ini, bahan pangan akan
dipaksakan oleh sistem ulir untuk mengalir dalam suatu ruangan yang sempit
sehingga akan mengalami pencampuran dan pemasakan sekaligus. Sumber panas utama
dalam ekstrusi adalah dari konversi energy mekanik (gesekan) yaitu akibat gesekan
antar bahan dan gesekan antara bahan dengan ulir. Kerja ulir tersebut juga
menghasilkan akumulasi tekanan dalam sistem barel ekstruder, bahan dipaksakan
keluar melalui lubang (die) yang kecil ukurannya dan kembali ke tekanan normal
(atmosfer) secara seketika yaitu ketika produk melewati die.
Ekstrusi sendiri merupakan proses pembentukan produk
melalui penekanan sebelum dipaksa keluar melalui die (lubang pencetakan), bahan
tersebut umumnya dipanaskan sedemikian rupa sehingga rasa mentahnya hilang. Dua
faktor penting yang mempengaruhi produk ekstrusi (ekstrudat) adalah kondisi
operasi dari ekstruder dan pemilihan reologi pangan. Parameter penting dalam
pengoperasian ekstruder adalah temperatur, tekanan, diameter lubang pencetakan
dan shear rate. Pemilihan bahan pangan berpengaruh penting pada tekstur dan
warna ekstrudat. Alat pengekstrusi adalah reaktor dengan aliran tka terputus
(kontinu) serta mempunyai kelembaman yang rendah. Molekul - molekul bahan
pangan yang besar seperti karbohidrat dan protein mengalami gelatinisasi dan
denaturasi menyusun aliran dalam ulir pengekstrusi dan cetakan. Pada suhu yang
semakin tinggi, molekul - molekul ini membentuk ikatan silang menjadi struktur
telah berubah dan dapat mengembang. Struktur makromolekul dari pati dan protein
mengembang dan menghasilkan massa viskoplastik.
Prinsip ekstrusi dalam
pengolahan makanan yaitu dengan menggabungkan proses pendorongan bahan,
pencampuran dan pembentukan bukanlah hal yang baru. Prinsip ekstrusi telah
diterapkan dalam industry makanan sejak tahun 1930an untuk pembuatan pasta.
Pada tahun-tahun berikutnya diterapkan pada industry kembang gula, industri
roti dan kue, terutama pada proses frosting kue. Pada tahun 1950,
kemudian digunakan juga untuk produksi sereal, campuran minyak biji-bijian untuk industry pakan.
Proses-proses pengolahan tersebut merupakan teknologi ekstrusi pada generasi
pertama. Pada tahun 1960an teknologi ini digunakan untuk mengubah ikatan silang
dan mengikat biopolymer untuk membuat protein nabati bertekstur. Terobosan ini
menyediakan pengetahuan dasar bagiekstrusi HTST (High Temperature Short Time)
modern yang memungkinkan diciptakannya produk-produk baru pada industry
makanan. Prinsip penerapannya pada industry makanan umumnya berdasarkan pada
gelatinisasi pati, pembentukan kompleks lemak-pati, denaturasi dan teksturisasi
protein, pengikatan, reaksi kimia dan biokimia, pengaruh tekanan/penggilingan
dan pengembangan (Linko, et. al. dalamJowitt, 1982).
Ekstrusi telah berkembang
penerapannya untuk beragam produk yang perlu dimasak/dimatangkan. Salah satu
kunci dalam beranekaragamnya hasil produk ekstrusi terletak pada bagian die-nya,
dimana dari sinilah bahan akan didorong keluar. Fungsi die dalam
pembuatan produksi pasta telah meningkatkan keragaman penggunaannya dalam
menghasilkan produk dengan berbagai macam bentuk, kandungan air dan konsistensi
(Holmes, 2007).
Keuntungan
yang diperoleh dari mengolah makanan dengan menggunakan ekstruder diantaranya
ialah Serbaguna (mampu melakukan berbagai macam proses pengolahan dalam satu
alat saja dan mampu menghasilkan jenis produk yang sangat beragam).
Produktivitas produk yang dihasilkan tinggi (mampu melakukan pengolahan
berkesinambungan). Biaya operasional relatif murah. Proses pengolahan dalam
ekstruder memungkinkan resiko mesin untuk overheat rendah. Kualitas
produk makanan yang dihasilkan tinggi (proses pengolahan HTST menyebabkan
terjadinya degradasi yang minimal pada kebanyakan bahan makanan). Efisien dalam
penggunaan energi. Tidak menghasilkan limbah atau polutan (Baianu, 1992).
Ang et.
al.,(1984) menyatakan bahwa ekstrusi adalah proses yang memiliki potensi yang
besar dalam memproduksi makanan suplemen yang cocok dalam program-program untuk
memperkaya gizi melalui produk makanan.
i.
Melapisi
(laminating)
Pelapisan adalah
sebuah lapisan yang
diterapkan pada permukaan obyek, biasanya
disebut sebagai substrat.
Pelapisan merupakan operasi
fundamental secara luas
di berbagai industri
kimia, termasuk obat-obatan,
makanan, pupuk, kosmetik,
biomedis, nuklir, dll.
Pelapis (Glazing agent)
adalah bahan tambahan
pangan untuk melapisi permukaan pangan
sehingga memberikan efek
perlindungan dan atau penampakan mengkilap. Biasanya, proses
pelapisan dilakukan untuk mencapai satu atau lebih hal berikut:
1. Melindungi
bahan dari oksigen, kelembaban, cahaya yang tidak kompatibel atau unsur-unsur
lain.
2. Menunda
atau mengontrol pelepasan agen aktif di dalam partikel inti.
3. Memberikan
sifat yang diinginkan pada antarmuka partikel, yang membuat mereka lebih tepat
untuk aplikasi dari target akhir(misalnya dispersi dalam plastik, pulverisation
elektrostatik, dll).
4. Mengurangi
afinitas bubuk dengan pelarut organik atau air.
5. Menghindari
penggumpalan selama penyimpanan dan transportasi.
6. Meningkatkan
penampilan, rasa atau bau produk.
7. Menjaga
nutrisi yang terkandung dalam produk makanan.
8. Memberi
kemampuan bubuk (katalis, enzim deterjen berlapis, dll).
9. Meningkatkan
ukuran partikel.
Untuk
pengembangan proses yang
optimal, sangat penting
untuk memahami pengaruh parameter
proses dan desain
serta sifat produk terhadap kinerja proses dan mekanisme dasar-dasar kontrol proses. Dalam fluidized
bed coating, mekanisme pertumbuhan
dan sifat akhir
produk tergantung pada berbagai parameter.
Parameter-parameter ini dapat
diklasifikasikan ke dalam empat kategori utama:
1. Sifat partikel
padat: ukuran dan
distribusi ukuran, porositas partikel,
dan kelarutan partikel di cairan pelapis,
2. Sifat cair
pelapis: densitas fluida,
parameter pembasahan, viskositas
cairan dan konsentrasi cairan,
3. Geometric
dari tipe pelapisan,
4. Kondisi
operasi: atomising conditions (laju alir cairan dan atomising air flow rate),
temperature kolom, kecepatan udara fluidisasi dan massa kolom.
(Shaviv,A; Miekkelsen, 1993)
Kriteria efisiensi pengendapan dan
hilangnya agen pelapisan dengan erosi dan spray drying:
1. Kandungan
zat terlarut: kandungan zat terlarut didefinisikan sebagai fraksi massa (atau
persentase) dari deposit coating agent untuk partikel pembantu.
2. Persen
pelapis: kriteria ini adalah perbandingan jumlah deposit zat terlarut pada partikel
padat selama waktu
t dengan yang
dimasukkan dalam bed untuk durasi yang sama.
·
JENIS
EKSTRUSI ( EKSTRUSI DINGIN DAN EKSTRUSI PANAS)
1. Ekstrusi dingin
Ekstrusi
dingin dilakukan pada suhu kamar. Keuntungannya jika dibandingkan dengan
ekstrusi panas adalah kurangnya oksidasi, kekuatan yang lebih tinggi karena
pengerjaan dilakukan pada suhu dingin , permukaan akhir yang dihasilkan baik,
dan kecepatan ekstrusi cepat jika bahan dikenakan tekanan panas (hot
shortness). Bahan yang umumnya digunakan pada ekstrusi dingin meliputi: timbal,
timah, aluminium, tembaga, zirkonium, titanium, molybdenum, berilium, vanadium,
niobium, dan baja.
Contoh
produk yang dihasilkan oleh proses ini adalah: alat pada proses pemadaman
kebakaran, shock absorber silinder, dan piston otomotif. Produk diekstrusi
tanpa pemasakan bahan yang menyebabkan pengembangan. Ekstruder mempunyai ulir
yang dioperasikan pada kecepatan rendah di dalam barrel yg rata sehingga
gesekan bahan rendah. Ekstrusi ini digunakan untuk memproduksi pasta, dan
jenis-jenis permen tertentu.
Proses
ekstrusi panas dapat dilaksanakan terhadap bebrapa macam logam lunak untuk
membuat bentuk - bentuk tertentu, misalnya tutup botol, tutup pasta gigi.
Metode ini lebih ekonomis dari pada ekstrusi panas untuk menghasilkan lekukan
pada kaleng, mangkuk. Cetakan untuk ekstrusi dingin berbentuk lubang dengan
ujung tertutup.
2.
Ekstrusi
pemasak
Hot ekstrusi adalah suatu proses kerja panas , yang berarti hal itu
dilakukan pada suhu rekristalisasi material tersebut, hal ini dilakukan untuk
menjaga material dari pengerasan saat kerja dilakukan dan untuk membuatnya
lebih mudah mendorong material. Kebanyakan ekstrusi panas dilakukan pada
tekanan hidrolik horizontal yang berkisar dari 230 hingga 11.000 metrik ton
(250 sampai 12.000 ton). Tekanan berkisar 3-70 MPa (4.400 hingga 100.000 psi),
sehingga pelumasan diperlukan, dapat dihasilkan minyak atau grafit untuk
ekstrusi suhu yang lebih rendah, atau serbuk kaca untuk ekstrusi suhu tinggi.
Kerugian terbesar dari proses ini adalah biaya untuk mesin dan pemeliharaannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar